Rabu, 27 Juli 2016

REDESAIN Jalan

Pembangunan infrastruktur jalan pada lintas Jalan Raya Surabrata-Pupuan, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan, Bali ini memiliki fungsi dalam mendukung perkembangan dan pertumbuhan ekonomi daerah khususnya di Desa Belatungan, Pupuan. Namun, dibalik manfaat besar yang diperoleh, ternyata muncul beberapa permasalahan yang berkaitan dengan pengelolaan infrastruktur jalan, antara lain kecelakaan lalu lintas kendaraan akibat defisiensi keselamatan infrastruktur jalan dan kebisingan yang dirasakan oleh pengguna jalan akibat standarisasi jalan yang sangat kurang. Penanganan defisiensi infrastruktur keselamatan jalan raya di Indonesia dilakukan oleh 2 (dua) lembaga pemerintah, yaitu Ditjen Bina Marga dan Ditjen Perhubungan Darat. Sebagai pihak penyelenggara dan pengelola jalan, Ditjen Bina Marga memiliki wewenang dan tanggung jawab pokok dalam merencanakan desain jalan sesuai standar dan memperbaiki lokasi rawan kecelakaan. Ditjen Perhubungan Darat memiliki tanggung jawab untuk merencanakan dan melaksanakan harmonisasi rambu atau petunjuk keselamatan jalan terhadap fungsi jalan. Kedua lembaga pemerintah tersebut dalam prakteknya di lapangan belum terintegrasi secara optimal, misalnya sering dijumpai tidak adanya rambu batasan kecepatan pada tikungan jalan yang disesuaikan dengan fungsi jalan dan keterlambatan penanganan rambu dan marka pada permukaan perkerasan baru maupun jalan yang rusak secara struktural.

Lanjutan dilihat yaaa..., KLIK

Senin, 25 April 2016

HAKEKAT MASALAH, KEPEMIMPINAN, FUNGSI, TUJUAN, DAN TAHAPAN PENGAMBILAN KEPUTUSAN


Dalam menjalani kehidupan sering kali kita dihadapkan pada situasi yang tidak sesuai dengan hati dan pikiran kita,sehingga terkadang kita merasakan sebel, jengkel , tidak mood , dsb. Bahkan kadang juga sampai selalu kita pikirkan dan menjadi beban di hati juga pikiran kita.Contoh : kesalahpahaman dengan orang disekitar kita,mungkin dengan keluarga atau dengan teman kerja / sekolah kita, hal itu menyebabkan ketidaksesuaian jalan pikiran kita dengan mereka.Maka timbulah hal yang tidak kita inginkan,yang sering kita sebut dengan " masalah " .

Lalu, apa arti sebenarnya masalah itu...? dan apa dari hakekat masalah tersebut..?
 A. PENGERTIAN MASALAH
1. Robert K. Merton mengartikan MASALAH sebagai  ketidaksesuaian yang signifikan dan tidak diinginkan  antara standar kebersamaan dan kondisi nyata.
2. Wikipedia bahasa Indonesia, mendefinisikan MASALAH yaitu (Inggris: problem) kata yang digunakan untuk menggambarkan suatu keadaan yang bersumber dari
hubungan antara dua faktor atau lebih yang menghasilkan situasi yang membingungkan.
Dua factor tersebut adalah,
a. Masalah biasanya dianggap sebagai suatu keadaan yang harus diselesaikan.
b. Masalah disadari  ada  saat seorang individu menyadari keadaan yang ia hadapi tidak sesuai dengan keadaan yang ia inginkan.
3.IRMANSYAH EFFENDI
Masalah adalah pelajaran saat anda sadar sebagai kesadaran jiwa, anda dengan mudah dapat melihat kelemahan dan masalah anda.
4.ABDUL CHOLIL
Masalah adalah bagian dari kehidupan. Setiap orang pasti pernah menghadapi masalah, bisa bersumber dari diri sendiri maupun bersumber dari orang lain.
5.JEFFEY LIKER
Masalah merupakan peluang untuk perbaikan, kebalikan dari masalah adalah peluang.
6.JUJUN SUPARJAN SURIASUMANTRI
Masalah merupakan titik tolak dari seluruh kegiatan keilmuan yang akan dilakukan.
7.ISTIJANTO
Masalah merupakan bagian yang paling penting dalam proses riset, sebab masalah memberi pedoman jenis informasi yang nantinya akan dicari.
8.RICHARD CARLSON
Masalah adalah tempat terbaik untuk berlatih agar hati kita tetap terbuka karenamasalah adalah bagian dari kehidupan kita.
9.AGUNG WIJAYA
Masalah merupakan suatu keadaan yang tidak seimbang antara harapan/keinginan dengan kenyataan yang ada.
10.MENURUT ILMU BIOLOGI
Masalah merupakan suatu pengertian / makna yang belum kita pahami tentang mengapa gejala benda dan gejala peristiwa di alam ini ada dan bisa terjadi atau mengalami proses serta mempengaruhi kehidupan kita.


B. HAKEKAT DARI MASALAH
Menurut Akhmad Guntar
1. Masalah adalah sebuah kesempatan untuk berkembang.Sebuah masalah bisa merupakan sebuah tendangan peluang, kesempatan untuk keluar dari stagnan, kebosanan atau status quo serta apapun yg dimaksudkan untuk membuat suatu kondisi jadi lebih baik. Perlu dicatat baik- baik bahwa yang disebut masalah tidaklah harus merupakan akibat dari kejadian buruk atau faktor eksternal.
Contoh di bidang industri adalah : Ada kendala dalam memperoleh supplier yang memiliki kualitas baik dan menawarkan harga relative lebih murah.
2. Masalah adalah perbedaan antara kondisi sekarang dan kondisi yg diharapkan. Sebuah masalah bisa muncul berkat adanya pengetahuan atau pemikiran baru. Ketika
seseorang tahu di mana posisi sekarang dan ke mana hendak menuju maka orang tersebut sudah punya sebuah masalah terkait bagaimana agar bisa sampai pada tujuan
yg diharapkan.
Contoh di bidang industri adalah : Perjanjian order penjualan dengan konsumen yang tanggal penyelesaian tidak seperti yang diharapkan sebelumnya.
3. Masalah adalah hasil dari kesadaran bahwa kondisi yg sekarang terjadi belumlah sempurna dan keyakinan bahwa masa depan bisa dibuat jadi lebih baik. Keyakinan bahwa harapan bisa tercapai akan membuat seseorang memiliki sasaran untuk masa depan yang lebih baik. Harapan membuat diri sendiri merasa tertantang dan tantangan
semacam ini juga layak juga disebut sebagai masalah.
Contoh di bidang industri adalah : Kualitas produk yang diterima oleh konsumen belum sesuai dengan permintaan komsumen.
Dalam suatu organisasi kita pasti membutuhkan apa yang namanya itu pemimpin, tentu pemimpin inikah yang akan mengambil keputusan dalam penyelesaian masalah, sebelumnya apa sih itu pemimpin dan kepemimpinan?

Pemimpin adalah seseorang yang menggunakan kemampuannya, sikapnya, nalurinya, dan ciri-ciri kepribadiannya yang mampu menciptakan suatu keadaan, sehingga orang lain yang dipimpinnya dapat saling bekerja sama untuk mencapai tujuan. Sedangkan Kepemimpinan adalah proses memengaruhi atau memberi contoh oleh pemimpin kepada pengikutnya dalam upaya mencapai tujuan organisasi.
Manager (Management Leader) adalah Seorang pemimpin dengan melaksanakan tugas berdasarkan prinsip dasar manajemen, yaitu perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan pengendalian sehingga mampu menciptakan keadaan orang lain yang dipimpinnya saling bekerja sama untuk mencapai tujuan. Seorang pemimpin harus mempunyai kreativitas yang tinggi, untuk memimpin bawahannya. 
Berikut ini adalah perilaku pemimpin yang efektif:
- Memelihara sikap baik.
- Menciptakan disiplin kerja.
- Memberikan perintah yang jelas, tegas, lengkap dan pantas.
- Memberikan teguran untuk perbaikan tugas.
- Menerima saran dari bawahan.
- Memberikan pujian dan penghargaan pada bawahan. 
- Memperkuat rasa persatuan.
- Mengenalkan anggota baru jika ada. 

Pemimpin harus bisa mengambil keputusan secara baik dan benar dengan mempertimbangkan segala hal yang menyangkut pada keputusannya. Sebelumnya apa sih sebenarnya fungsi dan tujuan pengambilan keputusan? berikut penjelasannya beserta tahap pengambilan keputusannya:

Pengambilan keputusan sebagai suatu kelanjutan dari cara pemecahan masalah memiliki fungsi antara lain :
1. Awal dari semua aktivitas manusia yg sadardan terarah , baik secara individual maupun secara kelompok, baik secara institusional maupun secara organisasional.
2. Suatu yang bersifat futuristik, artinya  bersangkut paut dengan hari depan, masa yg  akan datang, dimana efeknya atau pengaruhnya berlangsung cukup lama.

Tujuan pengambilan keputusan dapat dibedakan
atas dua, yaitu :
1. Tujuan yang bersifat tunggal
Tujuan pengambilan keputusan yg bersifat tunggal terjadi apabila keputusan yg dihasilkan hanya menyangkut satu masalah, artinya bahwa sekali diputuskan, tidak akan ada kaitannya dgn masalah lain.
2. Tujuan yang bersifat ganda
Tujuan pengambilan keputusan yg bersifat ganda terjadi apabila keputusan yg dihasilkan itu menyangkut lebih dari satu masalah, artinya bahwa satu keputusan yg diambil itu sekaligus memecahkan dua masalah atau lebih, yang bersifat tidak kontradiktif.
Agar pengambilan keputusan dapat lebih terarah, maka perlu diketahui unsur-unsur atau komponen-komponen pengambilan keputusan, yaitu :
(1). Tujuan dari pengambilan keputusan
Mengetahui lebih dahulu apa tujuan dari pengambilan keputusan itu. Misalnya : jika anda akan membeli mobil baru, maka anda harus mengetahui lebih dahulu tujuannya.
(2). Identifikasi alternatif-alternatif keputus-an untuk memecahkan masalah.Mengadakan identifikasi alternatif yang akan dipilih untuk mencapai tujuan tsb. Untuk itu perlu kiranya membuat daftar macam-macam tindakan yg memungkin-kan untuk mengadakan pilihan.
(3). Perhitungan mengenai faktor-faktor yg dapat diketahui sebelumnya atau di luar jangkauan manusia.
Perhitungan mengenai faktor-faktor di luar jangkauan manusia. Keberhasilan setiap alternatif keputusan dikaitkan dgn tujuan yg dikehendaki, ini sangat dike-hendaki, ini sangat tergantung pada keadaan yg
mungkin berada di luar jangkauan manusia. Peristiwa di luar jangkauan manusia ada-lah peristiwa yg dapat dibayangkan se-belumnya, namun manusia tidak sanggup atau kurang berdaya untuk mengatasinya. Keputusan untuk membeli mobil baru itu perl u dikaitkan dengan biaya-biaya yang dikeluarkan, misalnya : biaya pembelian bensin karena hal ini akan berpengaruh terhadap penghematan bagi pemakaian kendaraan tersebut. Anda dapat memprediksi harga bensin nantinya sebagai peristiwa di luar jangkauan manusia.
(4). Sarana atau alat untuk mengevaluasi atau mengukur hasil dari suatu pengambilan  keputusan. Adanya sarana dan alat untuk mengevaluasi atau mengukur keberhasilan dari pengambil-an keputusan itu. Selanjutnya alternatif-alternatif keputusan dan peristiwa di luar jangkauan manusia itu perlu dirinci dengan menggunakan
sarana/alat untuk mengukur pengeluaran yg perlu dilakukan dari setiap alternatif kombinasi keputusan di luar jangkauan manusia tersebut.
Menurut Simon (1960) ada beberapa tahap pengambilan keputusan, disebutkan olehnya proses pengambilan keputusan ada 4 tahapan yakni :
1. Intelligence : pengumpulan informasi untuk mengindetifikasikan permasalahan
2. Design : tahap perancangan solusi dalam bentuk alternative pemecahan masalah
3. Choice : tahap memilih dari solusi dari alternative-alternativeyang disediakan
4. Implementation : tahap melaksanakan keputusan dan melaporkan hasilnya



ELEMEN DASAR PENGAMBILAN KEPUTUSAN

1. Menetapkan tujuan
Pengambilan keputusan harus memiliki tujuan yang akan mengarahkan tujuannya, apakah spesifik yang dapat diukur hasilnya ataupun sasaran yang bersifat umum. Tanpa penetapan tujuan, pengambil keputusan tidak bisa menilai alternatif atau memilih suatu tindakan. Keputusan pada tingkat individu, tujuan ditentukan oleh masing-masing orang sesuai dengan sistem nilai seseorang. Pada tingkat kelompok dan organisasi, tujuan ditentukan oleh pusat kekuasaan melalui diskusi kelompok, konsensus bersama, pembentukan kualisi dan berbagai macam proses yang mempengaruhi. Ditambahkan oleh Wijono, bahwa tujuan harus dibagi menurut pentingnya, ada tujuan yang bersifat harus atau tidak bisa ditawar, dan ada tujuan yang bersifat keinginan, yang mana masih bisa ditawar.

2. Mengidentifikasi Permasalahan
Proses pengambilan keputusan umumnya dimulai setelah permasalahan diidentifikasi. Permasalahan merupakan kondisi dimana adanya ketidaksamaan antara kenyataan yang terjadi dengan apa yang diharapkan. Permasalahan dalam organisasi dapat berupa rendahnya produktivitas, adanya konflik disfungsional, biaya operasional yang terlalu tinggi, pelayanan tidak memuaskan klien, dan lain-lain. Pengambilan keputusan yang efektif memerlukan adanya identifikasi yang tepat atas penyebab permasalahan. Jika penyebab timbulnya permasalahan tidak dapat diidentifikasi dengan tepat, maka permasalahannya yang ada tidak dapat diselesaikan dengan baik. Ada tiga kesalahan yang sering terjadi dalam mengidentifikasi permasalahan, yaitu mengabaikan permasalahan yang ada, pemusatan perhatian pada gejala dan bukan pada penybab permasalahan yang sebenarnya, serta melindungi diri karena informasi dianggap mengancan harga diri.

3. Mengembangkan sejumlah alternatif
Setelah permasalahan diidentifikasi, kemudian dikembangkan serangkaian alternatif untuk menyelesaikan permasalahan. Organisasi harus mengkaji berbagai informasi baik interen maupun eksteren untuk mengembangkan serangkaian alternatif yang diharapkan dapat memecahkan permasalahan yang terjadi. Pengembangan sejumlah alternatif memungkinkan seseorang menolak untuk membuat keputusan yang terlalu cepat dan membuat lebih mungkin pencapaian keputusan yang efektif.
Proses pengambilan keputusan yang rasional mengharuskan pengambil keputusan untuk mengkaji semua alternatif pemecahan masalah yang potensial. Akan tetapi dalam kenyataannya seringkali terjadi bahwa proses pencarian alternatif pemecahan masalah seringkali terbatas.

4. Penilaian dan pemilihan alternatif
Setelah berbagai alternatif diidentifikasi, kemudian dilakukan evaluasi terhadap masing-masing alternatif yang telah dikembangkan dan dipilih sebuah alternatif yang terbaik. Alternatif-alternatif tindakan dipertimbangkan berkaitan dengan tujuan yang ditentukan, apakah dapat memenuhi keharusan atau keinginan. Alternatif yang terbaik adalah dalam hubungannya dengan sasaran atau tujuan yang hendak dicapai. Bidang ilmu statistik dan riset operasi merupakan model yang baik untuk menilai berbagai alternatif yang telah dikembangkan.

5. Melaksanakan keputusan
Jika salah satu dari alternatif yang terbaik telah dipilih, maka keputusan tersebut kemudian harus diterapkan. Sekalipun langkah ini sudah jelas, akan tetapi sering kali keputusan yang baik sekalipun mengalami kegagalan karena tidak diterapkan dengan benar. Keberhasilan penerapan keputusan yang diambil oleh pimpinan bukan semata-mata tanggung jawab dari pimpinan akan tetapi komitmen dari bawahan untuk melaksanakannya juga memegang peranan yang penting (Gillies, 1996; Gitosudarmo, 1997).
Dalam mengevaluasi dan memilih alternatif suatu keputusan seharusnya juga mempertimbangkan kemungkinan penerapan dari keputusan tersebut. Betapapun baiknya suatu keputusan apabila keputusan tersebut sulit diterapkan maka keputusan itu tidak ada artinya. Pengambil keputusan membuat keputusan berkaitan dengan tujuan yang ideal dan hanya sedikit mempertimbangkan penerapan operasionalnya (Gitosudarmo, 1997).

6. Evaluasi dan pengendalian
Setelah keputusan diterapkan, pengambil keputusan tidak dapat begitu saja menganggap bahwa hasil yang diinginkan akan tercapai. Mekanisme sistem pengendalian dan evaluasi perlu dilakukan agar apa yang diharapkan dari keputusan tersebut dapat terealisir. Penilaian didasarkan atas sasaran dan tujuan yang telah ditetapkan. Tujuan yang bersifat khusus dan mudah diukur dapat mempercepat pimpinan untuk menilai keberhasilan keputusan tersebut. Jika keputusan tersebut kurang berhasil, di mana permasalahan masih ada, maka pengambil keputusan perlu untuk mengambil keputusan kembali atau melakukan tindakan koreksi. Masing-masing tahap dari proses pengambilan keputusan perlu dipertimbangkan dengan hati-hati, termasuk dalam penetapan sasaran tujuan (Wijono, 1999; Gitosudarmo, 1997).

Jenis-jenis Keputusan
Jenis-jenis keputusan dalam 2 kategori, yaitu keputusan yang direncanakan / diprogram dan keputusan yang tidak direncanakan / tidak terprogram.

A. Keputusan yang diprogram
Keputusan yang diprogram merupakan keputusan yang bersifat rutin dan dilakukan secara berulang-ulang sehingga dapat dikembangkan suatu prosedur tertentu. Keputusan yang diprogram terjadi jika permasalahan terstruktur dengan baik dan orang-orang tahu bagaimana mencapainya. Permasalahan ini umumnya agak sederhana dan solusinya relatif mudah. Di perguruan tinggi keputusan yang diprogram misalnya keputusan tentang pembimbingan KRS, penyelenggaraan Ujian Akhir Semester, pelaksanaan wisuda, dan lain sebagainya (Gitosudarmo, 1997).

B. Keputusan yang tidak diprogram
Keputusan yang tidak diprogram adalah keputusan baru, tidak terstrutur dan tidak dapat diperkirakan sebelumnya. Tidak dapat dikembangkan prosedur tertentu untuk menangani suatu masalah, apakah karena permasalahannya belum pernah terjadi atau karena permasalahannya sangat kompleks dan penting. keputusan yang tidak diprogram dan tidak terstruktur dengan baik, apakah karena kondisi saat itu tidak jelas, metode untuk mencapai hasil yang diinginkan tidak diketahui, atau adanya ketidaksamaan tentang hasil yang diinginkan (Wijono, 1999).

Keputusan yang tidak diprogram memerlukan penanganan yang khusus dan proses pemecahan masalah dengan intuisi dan kreatifitas. Tehnik pengambilan keputusan kelompok biasanya dilakukan untuk keputusan yang tidak diprogram. Hal ini disebabkan oleh karena keputusan yang tidak diprogram biasanya bersifat unik dan kompleks, dan tanpa kriteria yang jelas, dan umumnya dilingkari oleh kontroversi dan manuver politik (Wijono, 1999). Gillies (1996) menyebutkan bahwa keputusan yang tidak diprogram adalah keputusan kreatif yang tidak tersusun, bersifat baru, dan dibuat untuk menangani suatu situasi dimana strategi/prosedur yang ditetapkan belum dikembangkan.

PROSES PENGAMBILAN KEPUTUSAN

                       

1. Pengertian Keputusan
Pengambilan keputusan merupakan suatu hal yang sangat penting bagi individu maupun organisasi. Mengambil keputusan kadang-kadang mudah tetapi lebih sering sulit sekali. Kemudahan atau kesulitan mengambil keputusan tergantung pada banyaknya alternatif yang tersedia. Semakin banyak alternatif yang tersedia, kita akan semakin sulit dalam mengambil keputusan. Keputusan yang diambil memiliki tinkat yang berbeda-beda. Ada keputusan yang tidak terlalu berpengaruh terhadap organisasi, tetapi ada keputusan yang dapat menentukan kelangsungan hidup organisasi. Oleh karena itu, hendaknya mengambil keputusan dengan hati-hati dan bijaksana.
Keputusan adalah sesuatu pilihan yang diambil diantara satu atau lebih pilihan yang tersedia.
2. Jenis-Jenis Keputusan
Jenis Keputusan dalam sebuah organisasi dapat digolongkan berdasarkan banyaknya waktu yang diperlukan untuk mengambil keputusan tersebut. Bagian mana organisasi harus dilibatkan dalam mengambil keputusan, dan pada bagian organisasi mana keputusan tersebut difokuskan. 
Secara garis besar keputusan digolongkan ke dalam keputusan rutin dan keputusan yang tidak rutin. Keputusan rutin adalah keputusan yang sifatnya rutin dan berulang-ulang, dan biasanya telah dikembangkan cara tertentu untuk mengendalikannya. Keputusan tidak rutin adalah keputusan yang diambil pada saat-saat khusus dan tidak bersifat rutin.
Dalam mengambil keputusan, baik yang bersifat rutin maupun tidak, ada dua metode yang digunakan. Metode pertama adalah metode tradisional, dimana pengambilan keputusan lebih berdasarkan pada intuisi dan kebiasaan. Metode yang kedua adalah metode modern, dimana pengambilan keputusan didasarkan pada perhitungan matematis dan penggunaan instrumen yang bersifat modern, seperti komputer dan perhitungan statistik.
Pengambilan keputusan berdasrkan metode ada 2, yaitu tradisional dan modern. Pengambilan keputusan secara garis besar ada 2, yaitu rutin dan tidak rutin.
3. Tingkat Pengambilan Keputusan
Banyak jenis keputusan yang berbeda harus dibuat dalam organisasi. Seperti bagaimana membuat suatu produk, bagaimana memelihara mesin, bagaimana menjamin kualitas produk dan bagaimana membentuk hubungan yang saling menguntungkan dengan pelanggan.
Dengan keputusan yang berbeda ini, beberapa tipe dasar pemikiran harus dikembangkan untuk menetapkan siapa saja yang memiliki tanggung jawab untuk membuat keputusan dalam organisasi.
Pemikiran tersebut didasarkan pada dua faktor berikut :
  1. Sejauh mana keputusan yang diambil akan mempengaruhi pihak lain.
  2. Tingkat manajemen.
Keputusan yang diambil mungkin hanya memiliki sedikit pengaruh terhadap organisasi secara umum, tetapi bisa saja sebaliknya. Semakin banyak pengaruh keputusan yang diambil terhadap organisasi tersebut, semakin vital keputusan tersebut. Tingkatan pada manajemen menuntuk pada manajemen tingkat bawah, menengah, dan atas. Dasar pemikiran untuk menentukan siapa yang akan mengambil keputusan adalah semakin besar pengaruh keputusan yang diambil terhadap organisasi (yang artinya semakin vital keputusan tersebut) maka semakin tinggi tingkatan manajer yang bertanggung jawab atas pengambilan keputusan tersebut.
Walaupun seseorang wirausahawan memiliki tanggung jawab dalam pembuatan keputusan tertentu, tidak berarti ketika mengambil keputusan tidak membutuhkan bantuan orang lain, terutama anggota organisasinya.
Ada sebuah cara yang disebut “konsensus” yang biasa digunakan wirausahawan untuk mendorong anggota organisasi terlibat dalam pengambilan keputusan tertentu. Konsensus adalah persetujuan dalam pengambilan keputusan oleh semua individu yang terlibat didalamnya. Konsensus biasanya terjadi setelah pertimbangan dan pembahasan mendalam yang lama oleh anggota-anggota dari kelompok yang mengambil keputusan.
Keputusan melalui konsensus memiliki kelebihan dan kekurangan.
  • Kelebihannya : Seorang wirausaha dapat lebih memanfaatkan perhatian pada konsep, sementara anggota organisasi lainnya mengembangkan konsep dasar tersebut menjadi sebuah keputusan konkrit dan dapat diambil.
  • Kekurangannya : terlalu banyak orang yang dilibatkan, amak pengambilan keputusan memakan waktu yang relatif lama dan biayanya yang relatif mahal.
4. Proses pengambilan keputusan
Proses pengambilan keputusan didefinisikan sebagai langkah yang diambil oleh pembuat keputusan untuk memilih alternatif yang tersedia. Adapun langkah sistematis yang harus dilakukan dalam proses pengambilan keputusan adalah sebgai berikut :
  1. Mengidentifikasi atau mengenali masalah yang dihadapi
  2. Mencari alternatif perusahaan bagi masalah yang dihadapi
  3. Memilih alternatif yang paling efisien dan efektif untuk memecahkan masalah
  4. Melaksanakan alternatif tersebut
  5. Mengevaluasi apakah alternatif yang dilaksanakan berhasil dan sesuai dengan yang diharapkan.
Berikut ini merupakan penjabaran proses pengambilan keputusan.
1. Pengambilan keputusan
Pengambilan keputusan pada dasarnya adalah proses pemecahan masalah yang menghalangi atau menghambat tercapainya tujuan. Agar masalah dapat dipecahkan, terlebih dahulu harus dikenali apa masalahnya.
2. Mencari alternatif pemecahan
Setelah masalh dikenali maka dapat dilakukan pencarian terhadap alternatif-alrternatif yang mungkin dapat memecahkan masalah yang dihadapi. Dalam mencari alternatif hendaknya tidak mamikirkan masalah efisiensi dan efektifitas. Ynag terpenting adalah mengumpulkan sebanyak-banyaknya alternatif. Setelah alternatif terkumpul, barulah disusun berurutan dari yang paling diinginkan sampai yang tidak diinginkan.
3. Memilih alternatif
Setelah alternatif tersusun, barulah dapat dilakukan pilihan alternatif yang dapat memberikan manfaat, dalam arti dapat memecahkan masalah dengan cara yang paling efektif dan efisien. Sebelum menjatuhkan pilihan pada sebuah alternatif, ajukan pertanyaan untuk tiap-tiap alternatif.
4. Pelaksanaan alternatif
Setelah alternatif dipilih, tibalah saatnya melaksanakannya ke dalam bentuk tindakan. pelaksanaan harus sesuai denga rencana, agar tujuan memecahkan masalh dapat tercapai.
5. Evaluasi
Setelah alternatif dilaksanakan, bukan berarti proses pengambilan keputusan telah selesai. Pelaksanaan alternatif harus terus diamati, apakah berjalan sesuai dengan yang diharapkan. Bila langkah-langkah pelaksanaan telah dilakukan dengan benar tetapi hasil yang dicapai tidak maksimal, sudah waktunya untuk mempertimbangkan kembali pemilihan alternatif lainnya. Tidak maksimalnya hasil yang dicapai mungkin terjadi karena pengaruh negatif potensial benar-benar terjadi, atau mungkin pengaruh negatif yang tadinya tidak diperkirakan. 
Langkah proses pengambilan keputusan ada 5, yaitu identifikasi masalah, mencari alternatif pemecahan, pelaksanaan alternatif, dan evaluasi.

Referensi:
Niko Tri Leksono

APLIKASI TEKNIK PENGAMBILAN KEPUTUSAN

EFEKTIFITAS SIMPANG

Langkah dalam Pengambilan Keputusan:
Dalam mata kuliah Teknik Pengambilan keputusan kami diajarkan teknik atau langkah dalam mengambil keputusan yang lebih baik dan bijak, dalam artikel ini saya Taruna DIV Manajemen Keselamatan Transportasi Jalan I Dewa Gede Tantara Tesa Putra, akan mengaplikasikan atau menerapkan apa yang telah saya dapat dan pelajari dalam mata kuliah ini salah satunya yaitu langkah dalam pengambilan keputusan dengan permasalahan yang saya angkat yaitu Manajemen Simpang (studi kasus: Simpang Antasura, Denpasar Timur, Bali) dalam penetuan tingkat efektifitas simpang menggunakan APILL atau prioritas.

Latar Belakang:
Persimpangan adalah daerah vital dimana banyak terjadi konflik lalu lintas. Persimpangan merupakan simpul jaringan jalan transportasi dimana ada dua atau lebih ruas jalan yang saling bertemu, sehingga daerah persimpangan adalah daerah yang sering terjadi sebuah konflik yang disebabkan oleh pengemudi yang melanggar lalu lintas, jumlah kendaraan yang semakin banyak dan tidak terkontrol membuat sistem lalu lintas menjadi tidak normal dan tidak terkontrol.
Simpang Antasura merupakan simpang berlengan empat bersinyal. Pada simpang tersebut saya ingin membandingkan tingkat efektifitas pemasangan APILL pada simpang tersebut karena menurut masyarakat semenjak dipasang APILL kondisi lalu lintasnya semakin memburuk, hal inilah yang membuat saya tertarik untuk untuk mengangkat masalah ini menjadi permasalahan.
Berdasarkan permasalahan diatas, hal tersebutlah yang melatar belakangi saya dalam pengambilan keputusan pada simpang lengan empat bersinyal di jalan Antasura, Denpasar Timur.

A.       Menetapkan Tujuan:
·         Tujuan Umum:
Untuk meningkatkan kinerja simpang bersinyal.
·         Tujuan Khusus:
1.      Untuk mengetahui perbandingan efektifitas simpang. (berdasarkan kapasitas, derajat kejenuhan dan kuesioner pengguna jalan simpang bersinyal dan tidak apabila simpang tersebut diasumsikan kembali untuk menjadi simpang prioritas)
2.      Untuk mengetahui volume lalu lintas pada simpang tersebut. (berdasarkan hasil survey Traffic Counting)
3.      Untuk mengetahui Ymax waktu siklus dan diagram siklusnya. (berdasarkan perhitungan hijau, merah, dan kuning yang dihitung menggunakan alat android Traffic Light Timer)
4.      Untuk mengetahui geometrik simpang tersebut. (berdasarkan hasil survey pengukuran dimensi simpang)
5.      Untuk mengetahui kondisi dan kelengkapan sarana dan prasarana jalan sekitar simpang. (berdasarkan survey inventarisasi jalan)

B.       Identifikasi Masalah
1.      Volume lalu lintas yang padat. (mengakibatkan tingkat derajat kejenuhan pada simpang tinggi)
2.      Waktu siklus tinggi. (mengakibatkan antrian panjang pada jalur jalan yang mengarah pada simpang Antasura)
3.      Pada salah satu jalur jalan simpang terdapat tanjakan pada geometrik jalannya. (mengakibatkan tundaan pada kendaraan akibat alinyemen vertikal pada jalur jalan tersebut)
4.      Kelengkapan dan prasarana pendukung simpang kurang. (mengakibatkan kinerja simpang berkurang)


C.       Mengembangkan Sejumlah Alternatif
1.      Tetap menggunakan simpang bersinyal dengan mengubah sistem pengaturan dan manjemen simpangnya. (berdasarkan hasil survey dan analisa perhitungan)
2.      Menggunakan simpang prioritas. (berdasarkan kuesioner yang dibagikan kepada pengguna jalan)


D.       Penilaian dan Pemilihan Alternatif
·         Penilaian
1.      Menggunakan simpang bersinyal
Simpang Antasura memiliki volume lalu lintas pada waktu peak hour selama 1 jam yaitu 7240 kend/jam atau 4134 smp/jam untuk kendaraan bermotor dan 40 kend/jam untuk kendaraan tidak bermotor.
Simpang Antasura memiliki waktu siklus 100 detik, fase utara-selatan untuk waktu hijau berjalan selama 40 detik dengan waktu hilang 5 detik dan waktu merah atau henti selama 55 detik. Sedangkan untuk fase timur-barat, waktu merah atau henti selama 50 detik, waktu hilang 5 detik dan waktu hijau atau jalan selama 45 detik.
Simpang Antasura lebih efektif menggunakan pengaturan bersinyal berdasarkan tingkat kapasitas, konflik lalu lintas dan keselamatan pengguna jalan dalam meningkatkan kinerja simpang.

2.      Menggunakan simpang prioritas
Simpang Antasura memiliki efektifitas lebih apabila diasumsikan menjadi prioritas berdasarkan pada perhitungan derajat kejenuhan dan wawancara (kuesioner) kepada pengguna jalan dengan uji hipotesis didapati bahwa simpang prioritas lebih efektif dibandingkan bersinyal. Namun hal dilihat dari tingkat terjadinya konflik lalu lintas sangat tinggi dan otomatis tingkat keselamatan pengguna jalan rendah.

·         Pemilihan Alternatif
Dalam pemilihan dua alternatif ini saya mengambil keputusan untuk tetap menggunakan simpang bersinyal dengan mengubah sistem pengaturan dan manjemen simpangnya. Hal ini dilihat dan dipetimbangkan berdasarkan tujuan awal yaitu meningkatkan kinerja simpang Antasura.


E.       Melaksanakan Keputusan
Menerapkan keputusan yang diambil yaitu pada simpang Antasura tetap menggunakan simpang bersinyal dan mengubah sistem pengaturannya dari dua fase menjadi empat fase dan mengatur waktu siklus dengan meningkatkan waktu hijau pada jalan utama.


F.        Evaluasi dan Pengendalian
·         Evaluasi
1.      Terjadi kemacetan pada jam sibuk yaitu berangkat dan pulang kerja.
2.      Terjadi antrian mencapai 10 detik

·         Pengendalian
1.      Pemasangan rambu petunjuk untuk memudahkan pengguna jalan dalam penyampaian informasi
2.      Pemasangan rumble street sebelum memasuki simpang sebegai pengendali kecepatan pengguna jalan
3.      Pemasangan ATCS dalam pengaturan otomatis wktu siklus untuk menanggulangi kemacetan pada jam sibuk dan mengurangi tundaan.



Kegiatan dibelakang Layar:

Dalam penelitian yang saya lakukan adapun peserta penelitiannya yaitu sejumlah tiga orang yaitu saya dan dibantu teman saya dari UPT Universitas Udayana jurusan Teknik Sipil, kenapa teknik sipil? Karena itu sangat membantu saya dalam melakukan survey inventarisasi jalan dan satunya dari UPT Universitas Pendidikan Ganesha jurusan Pendidikan Teknologi dan Informasi, mengapa jurusan ini? Karena itu sangat membantu saya counting kendaraan dalam survey Volume Lalu Lintas
Peserta penelitian:
      1.      Nama: I DEWA GEDE TANTARA TESA PUTRA
      Notar: 14.I.0228
      Jurusan: DIV Manajemen Keselamatan Transportasi Jalan
      UPT: Politeknik Keselamatan Transportasi Jalan Tegal
 









      2.      Nama: Ade Wahyu Sudewa
      NIM: 1419251076
      Jurusan: Teknik Sipil
      UPT: Universitas Udayana BALI


 


       3.      Nama: I Putu Yogi Suryawan
       NIM: 1415051041
       Jurusan: Pendidikan Teknologi dan Informasi
       UPT: Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja



Kondisi Studi Kasus:



Gambar 1. Lokasi Penelitian



Gambar 2. Kondisi saat melakukan penelitian


Gambar 3. Kondisi Sarana/Prasarana disekitar simpang
  

Gambar 4. Kemacetan pada jam sibuk
  

Gambar 5. Perbaikan jalan rusak pada simpang Antasura